-->

Monday, January 26, 2015

Siapakah Otak dibalik Serangan Pearl Harbor?



Terkadang, peperangan membawa sebuah ironi. Seseorang yang begitu membenci perang, dapat juga justru menjadi pemicu utama dari peperangan. Itulah yang terjadi pada seorang Laksamana Jepang bernama Ishoroku Yamamoto

Seorang perwira briliant yang telah kehilangan dua jari tangan selama perang Russia dan Jepang di tahun 1905. Dia jugalah yang membangun angkatan laut Jepang sehingga begitu ditakuti selama awal Perang Dunia II.

Laksamana Jepang Ishoroku Yamamoto adalah salah satu komandan laut terbesar Angkatan Laut Jepang dan salah satu pemimpin militer penting saat Perang Dunia II.

Dia adalah Laksamana Armada Gabungan Angkatan Laut Jepang selama tahun-tahun pertama Perang Dunia II.

Yamamoto lahir pada 4 April 1884. Dia belajar di Akademi Angkatan Laut Jepang dan bertugas di kapal selama Perang Rusia-Jepang.

Di kemudian hari dia melanjutkan sekolah di Harvard University, Amerika. Disinilah Isoroku Yamamoto mulai tertarik pada kemungkinan penerbangan angkatan laut.

Selanjutnya, Yamamoto kembali lagi ke Amerika Serikat pada tahun 1920 sebagai atase angkatan laut di Washington, DC.

Dia belajar menerbangkan pesawat dan menjadi yakin bahwa konflik militer di masa depan akan diputuskan terutama melalui kekuatan udara.

Tidak ada lagi perang meriam antar kapal untuk menenggelamkan salah satunya. Kekuatan udaralah yang akan mengambil peran besar.

Dia bisa meramalkan saat kapal perusak, kapal penjelajah dan kapal perang akan bertugas sebagian besar sebagai pendamping kapal induk.

Untuk tujuan ini, sebagai komandan Armada Udara Pertama, Isoroku Yamamoto mendorong militer Jepang untuk memproduksi lebih banyak pesawat yang disambut baik dengan diproduksinya lebih dari 4.700 unit pada tahun 1940.






Perencana Serangan Pearl Harbor

Sebagai wakil menteri Angkatan Laut Jepang, Isoroku Yamamoto juga mengawasi pembangunan dua kapal induk modern Jepang yaitu Shokaku dan Zuikaku. Kedua kapal ini berperan dalam serangan di Pearl Harbor.

Seiring hubungan antara AS dan Jepang yang semakin memburuk pada tahun 1940, Isoroku Yamamoto diperintahkan oleh kabinet militer Jepang untuk mulai merencanakan serangan terhadap Amerika.

Dia tidak antusias menanggapi perintah ini. Pengalamannya di Amerika membuatnya lebih mengenal negara ini dibandingkan para pemimpin kabinet militer.

Kabinet militer berusaha meyakinkan Yamamoto bahwa Amerika “tidak memiliki nyali” untuk berperang, tapi Yamamoto tidak begitu yakin.

Yamamoto mengatakan kepada kabinet bahwa efek serangan mungkin bisa berdampak selama enam bulan setelah menyerang Pearl Harbor, tapi dia tidak bisa menjamin apa-apa di luar itu.

Setelah mesin perang Amerika bangkit dan beroperasi, katanya, itu akan mirip dengan “membangunkan raksasa tidur.”

Menurut Yamamoto, satu-satunya kesempatan Jepang untuk memperoleh hasil positif adalah dengan menyerang hebat Pearl Harbor dan target lain sebanyak mungkin, dan berharap Washington akan menghubungi Tokyo untuk mengajukan tawaran perdamaian.

Isoroku Yamamoto merencanakan serangan Pearl Harbor dan sejarah mencatat serangan pada 7 Desember 1941 tersebut dianggap sangat berhasil dari sudut pandang Jepang.

Angkatan Laut Jepang melanjutkan untuk menyerang dan menduduki pos-pos lain yang dikuasai Amerika.

Namun, ketakutan terburuk Yamamoto mulai terwujud pada Mei 1942 saat terjadi Pertempuran Laut Karang (Battle of the Coral Sea).

Pada pertempuran tersebut, kapal induk Shokaku, kebanggaan armada Jepang, rusak parah dan kapal induk kembarnya, Zuikaku, kehilangan banyak kekuatan udaranya.

Hal ini membuat kedua kapal induk tersebut tidak dapat mengambil bagian dalam Pertempuran Midway sebulan kemudian.





Pertempuran Midway

Pertempuran Midway adalah salah satu pertempuran laut paling bersejarah, tidak hanya dari masa Perang Dunia II, tapi juga sepanjang sejarah pertempuran laut.

Intelijen AS, di bawah komando Joseph Rochefort, berhasil memecahkan JN-25 atau kode angkatan laut Jepang dan berhasil mengetahui bahwa sesuatu yang besar telah melewati Hawaii.

Untuk diketahui, tidak ada wilayah apapun antara Hawaii dan Jepang kecuali atol Midway.

Isoroku Yamamoto berpendapat bahwa jika Jepang bisa menguasai Midway, itu akan menjadi tempat yang baik untuk memulai serangan terhadap Hawaii dan akhirnya daratan AS.

Faktor paling penting dalam kemenangan Amerika adalah saat pesawat AS memergoki tiga dari empat kapal induk Jepang pada saat-saat paling rentan untuk sekaligus melancarkan serangan. Akibatnya, tiga kapal induk bisa ditenggelemkan dalam waktu hanya 10 menit.

Admiral Chuichi Nagumo, pemimpin armada kapal induk Jepang, tidak bisa memutuskan apakah balas menyerang kapal induk AS dengan torpedo atau memerintahkan serangan ke Midway menggunakan bom. Keraguan ini pada akhirnya berbuah bencana.

Kegagalan ini sebagian merupakan kesalahan Isoroku Yamamoto. Dia memerintahkan pelarangan penggunaan radio yang ketat, sehingga kapal perang super Yamato yang ditumpanginya tidak melakukan tindakan apapun.

Nagumo yang tidak bisa menghubungi Yamamoto harus membuat keputusan sendiri. Namun, usaha ini sia-sia dengan kapal induk Jepang keempat bisa ditenggelamkan sore harinya setelah mengalami pemboman hebat.

Akibatnya, sisa Angkatan Laut Jepang berbalik kembali ke Tokyo dan tidak lagi melakukan serangan ofensif selama sisa perang.

Tetap menjadi laksamana, Yamamoto kemudian mengalihkan perhatiannya ke Guadalcanal dan pulau-pulau Pasifik lainnya, namun hanya dalam peran pendukung untuk membantu pasukan darat menginvasi pulau-pulau ini.





Akhir Hayatnya

Isoroku Yamamoto tidak hidup untuk melihat akhir Perang Dunia II. Sebagai pemimpin militer penting sekaligus bertanggung jawab dalam merencanakan Pearl Harbor, Yamamoto adalah sosok yang diincar pihak AS.

Intelijen AS mengetahui bahwa Yamamoto akan menginspeksi pasukan Jepang yang menduduki pulau Bougainville.

Pada tanggal 18 April 1943, 18 pesawat Amerika berusaha mencegat pesawat yang ditumpangi Yamamoto.

Saat pesawatnya terlihat mendekati sebuah lapangan terbang di Bougainville, skuadron P-38 milik AS segera menukik untuk melancarkan serangan.

Yamamoto tewas dalam serangan ini. Pemerintah Jepang tidak ingin menurunkan semangat rakyat, sehingga kematiannya tidak diumumkan sampai Mei 1943.

Isoroku Yamamoto mendapatkan upacara pemakaman kenegaraan penuh dan dianugerahi Order of the Chrysanthemum secara anumerta.

Isoroku Yamamoto adalah seorang laksamana besar dan komandan laut yang kapabel. Kematiannya merupakan kerugian luar biasa bagi Angkatan Laut Jepang.








sumber: http://www.amazine.co/39610/siapakah-isoroku-yamamoto-perencana-serangan-pearl-harbor/

.

Advertiser